Selasa, 15 Juli 2008

Kesenian sebagai Pendidikan Moral

Sebuah pendekatan tersebut telah dekat tertarik dengan pendekatan lain yang sangat tidak mengikuti mode/zaman untuk mengevaluasi bentuk-bentuk simbolik sebagai sebuah tempat pendidikan moral. Kant telah menulis tentang kesenian ‘sebagai ekspresi yang dapat dilihat dari ide-ide moral’ dan Hegel bahwa manusia (sic)’menikmati bentuk dari barang-barang sebagai realisasi eksternal dari dirinya sendiri’. Itu adalah sebuah pendekatan yang asalnya diturunkan dari Yunani, tapi telah diekspresikan dengan sangat kuat dalam era moderen oleh Schiller, yang berpendapat bahwa karya-karya seni menyediakan sebuah tempat untuk manusia bermain. Gagasannya tentang permainan adalah sangat serius. Apa yang dia maksud adalah bahwa pemisahan kesenian dari kehidupan, tapi pada saat yang sama kemampuannya untuk menghasilkan fiksi seperti/mirip kehidupan, memampukan manusia untuk menggunakan kesenian sebagai sebuah alat untuk bekerja di luar eksperimen kehidupan. ‘Kesenian telah memunculkan sebuah watak pertengahan, yang di dalamnya alam kita adalah tidak terhambat baik secara fisikal maupun secara moral dan bahkan aktif pada kedua cara tersebut’ (dikutip dalam Habermas 1987: 48). ‘Pada pertengahan dunia yang dahsyat tentang kekuasaan dan tentang dunia hukum yang sakral, gerak hati kreatif estetika adalah bangunan bawah sadar sebuah dunia kegembiraan ketiga dari permainan dan tentang penampilan, yang di dalamnya ini melepaskan manusia dari semua belenggu suasana lingkungan dan membebaskannya dari setiap hal yang mungkin disebut rintangan, apakah secara fisikal ataupun moral’ (dikutip dalam habermas 19987: 137-138).

Sebuah pandangan tentang kesenian tersebut tentu saja terkait dengan sebuah interaksionist, pandangan pragmatis tentang pembentukan identitas manusia dan masyarakat, tentang kehidupan sebagai sebuah proyek yang melaluinya kita hanya mengetahui alam (sifat-sifat) kita sendiri dan realitas eksternal ketika hal ini dieksternalisasi, diobjektifikasi dan direfleksikan kembali kepada kita dalam tindakan. Bagi Schiller, dan mereka yang berfikir seperti dia, konstruksi simbolik yang telah kita sebut sebagai kesenian adalah sebuah bentuk istimewa khusus dari proses kemanusiaan secara umum tentang eksternalisasi dan objektifikasi secara persis, karena, sebagaimana Kant katakan, mereka tidak punya tujuan. Karena tindakan moral adalah tidak langsung pada pokok yang dapat kita adakan untuk mengambil resiko eksperimental yang akan tidak dapat diterima dalam ‘kehidupan yang nyata’. Kita menemukan sebuah pandangan yang sama dinyatakan dalam analisis Ang tentang pemirsa Dallas, di mana dia dia berpendapat: ‘memproduksi dan mengkonsumsi fantasi membiarkan kita untuk bermain-main dengan realitas, yang dapat dirasakan sebagai “pembebasan” karena ini adalah fiksi (khayalan), tidak nyata. Dalam bermain dengan fantasi kita mengadopsi posisi dan “mencoba (try out)” posisi tersebut, tanpa khawatir terhadap nilai-nilai realitas mereka’ (Ang, 1985: 130). Kita dapat menemukan argumentasi yang sama untuk sebuah konsep tentang kualitas televisi dalam Mepham (1990), di mana dia berpendapat bahwa ini adalah kewajiban televisi untuk mensuplai cerita-cerita yang dapat membantu kita menghidupkan (menjalani) kehidupan kita, sebuah hal yang sepenuhnya perhatian tentang etika ketimbang estetika. Pandangan tentang nilai dari literatur (kesusastraan) ini dan kebutuhan untuk membuat penilaian-penilaian sastrawi diskriminatif juga menyokong semua usaha kritis Leavis. Formulasi mutakhir yang paling canggih dari posisi ini adalah yang dinyatakan oleh Nusbaum dalam karyanya Love’s Knowledge (1990). Di sini dari sebuah posisi neo-Aritotelian yang mengharapkan untuk mengedepankan superioritas penalaran praktis Aristotelian di atas perintah-perintah moral kategoris Kantian di dalam etika, dia berpendapat, menggunakan sebuah pemilihan novel-novel sebagai contoh, bahwa novel-novel menyediakan kita dengan contoh-contoh istimewa dari penalaran moral praktis pengalaman yang memperbaiki, atau paling tidak memberi kita sumber-sumber untuk memperbaiki, nalar-akal moral kita. Lagi-lagi ini terlihat oleh saya sebuah posisi yang perlu kita ambil serius dan tidak sekedar menyingkirkan tangan dari posisi sosiologis atau posisi dekonstruksionist.

Sumber:

www.vanillamist.com

Jumat, 11 Juli 2008

Pendidikan Anak untuk Mengerti Kebudayaan


Pendidikan dan kebudayaan adalah dua kata saling berhubungan erat. Bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan, karena keduanya merupakan entitas yang saling mencakupi. Pendidikan itu sendiri adalah kebudayaan. Karena pendidikan adalah kerjanya manusia. Kegiatan pendidikan merupakan proses pembudayaan, artinya pendidikan membuat manusia menjadi berbudaya. Kebudayaan merupakan salah satu landasan bagi pendidikan, karena di dalamnya terkandung nilai nilai kehidupan dan menjadi pedoman hidup masyarakat dimana pendidikan itu berlangsung.

Demikian termaktub dalam Qanun Pendidikan, kebudayaan bangsa dan kebudayaan masyarakat Aceh termasuk di antara landasan bagi pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam. Kebudayaan bangsa itu sendiri pada hakekatnya adalah kebudayaan daerah daerah di Indonesia. Selain sebagai landasan, kebudayaan merupakan pula isi bagi pendidikan dimana melalui pendidikan nilai nilai kebudayaan itu diajarkan atau ditransformasikan kepada peserta didik. Karena itu pendidikan sering dipandang sebagai proses pewarisan nilai - nilai budaya atau proses enculturasi dari satu generasi ke generasi yang lain. Misalnya, tatkala seorang anak di dodaidi oleh ibunya sambil menyanyikan hikayat prang sabi berarti sedang terjadi proses pendidikan pada anak itu.

Demikian pula ketika seorang ayah memperingatkan anak anaknya agar harus bersikap sopan santun dalam pergaulan, terutama harus bergikap hormat kepada guru dan takzim kepada orang tua, sebab hal itu merapakan nilai nilai budaya yang telah menjadi tradisi masyarakat Aceh, maka itu berarti si ayah sedang mendidik anak anaknya atau sedang terjadi proses enculturasi dalam keluarga itu.

Di sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kedua bagi anak, juga terjadi proses pembudayaan. Sekolah itu sendiri adalah sebagai pusat kebudayaan. Sekolah dengan segala komponen dan kehidupan di dalamnya merupakan budaya tersendiri yang disebut budaya sekolah (school culture). Mutu pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh keadaan budaya sekolah. Semakin baik budaya sekolah akan semakin berkualitas mutu lulusannya.
Dalam masyarakat sebagai salah satu dari tri pusat pendidikan berlangsung pula pendidikan nilai nilai budaya yang sangat menentukan perkembangan kepribadian seseorang dan sekaligus perkembangan dari kebudayaan masyarakat itu.

Pendidikan dalam masyarakat terutama berlangsung secara informal, yaitu dalam bentuk berbagai pengaruh secara tidak terencana. Seorang anak dipengaruhi oleh teman temannya melalui pergaulan. Ia melihat perilaku masyarakat setiap hari, melihat berbagai program media televisi dan peristiwa budaya lainnya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Semuanya itu menjadi kurikulum yang disebut kurikulum tersembunyi (hidden curriculum). Itu sangat besar pengaruhnya, bahkan dalam beberapa hal lebih berpengaruh dari kurikulum sekolah yang direncanakan.

Pendidikan memegang peranan yang sangat besar dalam perkembangan kebudayaan, bahkan dalam hidup matinya suatu kebudayaan. Tanpa proses pendidikan tidak mungkin kebudayaan itu berlangsung dan berkembang. Melalui pendidikan, kepribadian seseorang itu dibentuk dan dikembangkan. Individu yang dididik melalui pendidikan merupakan kreator dan sekaligus sebagai manipulator dari kebudayaannya. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekedar jumlah dari kepribadian kepribadian.
Sebaliknya kebudayaan akan sangat diperlukan upaya pembentukan kepribdian. Kesenian misalnya, sebagai aspek kebudayaan, sangat besar peranannya dalam pengembangan kepribadian seseorang, dan karena itu sangat penting bagi pendidikan. Dengan musik dapat memperhalus perasaan seseorang, dengan sastra dapat membangun jiwa dan kalbu, demikian. pula dengan seni tari, seni lukis dan berbagai seni pertunjukan dapat membangun dan memperkokoh kepribadian.

Kebudayaan mencakup nilai idil, nilai nilai rohani dan nilai nilai materil. Nilai nilai itu merupakan inti setiap kebudayaan. Nilai nilai moral misalnya, merupakan sarana, pengatur kehidupan bersama. Nilai itu sangat menentukan dalam setiap kebudayaan dalam upaya pengembangan kepribadian. Maka, pendidikan di seluruh dunia sekarang ini sedang mengkaji mengenai perlunya diadakan kembali pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti. Suatu keadaan terjadinya kebangkitan kembali kesadaran etik, artinya kesadaran akan perlunya nilai nilai etika atau akhlak dalam kehidupan. Karena dalam masyarakat terdapat moralitas dasar yang sangat esensial untuk keberlangsungan hidup bermasyarakat, seperti percaya mempercayai, kejujuran, rasa solidaritas sosial, dan nilai nilai kemasyarakatan lainnya. …..

Anak anak atau generasi muda perlu diajarkan akan tanggung jawabnya dalam hidup bersama (learning to live together) dengan menghormati nilai nilai dasar tersebut. Nilai nilai dasar itu adalah nilai nilai obyektif yang merupakan dasar perekat dan pengikat hidup bersama, dan merupakan nilai nilai hakekat kemanusiaan (human dignity) yang diperlukan untuk meningkatkan kemakmuran hidup bersama. Mengapa kesadaran itu timbul? Sebabnya antara lain, karena dalam masyarakat modern dan post modern sekarang ini telah semakin melemahnya ikatan keluarga. Keluarga yang secara tradidisional merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak sudah kehilangan fungsinya. Tugas mendidik sudah hampir sepenuhnya diserahkan kepada sekolah oleh keluarga, sehingga sekolah sudah mempunyai tugas ganda di samping mengajar.

Sebab lainnya ialah karena dalam kehidupan pemuda semakin nyata adanya kecenderungan negatif, seperti perkelahian, pemakaian narkoba, pencurian, kekerasan, penyelewengan seksual, dan lain lain. Dalam keadaan demikian itu maka tugas orang tua di rumah, tugas guru di sekolah dan tugas pemuka masyarakat menjadi sangat krusial dan menentukan dalam upaya meningkatkan pendidikan akhlak itu.

Untuk membangun akhlak perlu diajarkan nilai nilai yang terkandung dalam ajaran agama dan kebudayaan masyarakat. Seperti dimaklumi bahwa kebudayaan bukan hanya kesenian tetapi mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam konteks kebudayaan universal, kesenian hanya salah satu aspek saja dari kebudayaan. Aspek lainnya ialah sistem peribadatan, sistem kemasyarakatan, sistem ekonomi, bahasa, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mengartikan kebudayaan dalam arti sempit, yaitu terbatas pada kesenian dan kepurbakalaan telah mereduksi kebudayaan hanya pada nilai nilai estetika. Dan ini berarti telah memperjarak hubungan atau telah cenderung. memisahkan antara pendidikan dengan kebudayaan. Gejala pemisahan kedua hal itu juga disebabkan karena nilai nilai kebudayaan dalam pendidikan terlalu dibatasi pada nilai nilai intelektual saja.

Sebab lainnya terjadi gejala pemisahan antara pendidikan dengan kebudayaan, karena adanya pandangan dan usaha bahwa nilai nilai agama dipandang sebagai bukan urusan pendidikan, tetapi sebagai urusannya lembaga lembaga keagamaan, Alasan lainnya ialah telah dipisahkan antara departemen pendidikan dengan departemen kebudayaan, yang dulu merupakan satu departemen, sehingga jarak antara pendidikan dan kebudayaan semakin jauh, malah dipandang sebagai dua hal yang tidak ada hubungan.

Dulu ketika lembaga pemerintahan itu bernama departemen pendidikan dan kebudayaan, ternyata unsur kebudayaan dalam lembaga tersebut sangat kabur, karena pengertian kebudayaan hanya dibatasi pada urusan kesenian, kepurbakalaan dan bahasa. Kebudayaan sudah merupakan bagian yang embel embel dalam departemen itu. Padahal kebudayaan jauh lebih luas dari pendidikan. Menurut saya adalah tepat bahwa pendidikan dan kebudayaan itu berada dalam satu departemen atau dalam satu dinas.

Yang perlu adalah bahwa kebudayaan itu harus diartikan secara luas, malah lebih luas dari pendidikan, sebab kebudayaan mencakup semua segi kehidupan, dan ia merupakan landasan bagi aspek kebudayaan yang bernama pendidikan. Menurut Profesor Tilaar, memisahkan pendidikan dengan kebudayaan merupakan satu kebijakan yang merusak perkembangan kebudayaan itu sendiri, malahan mengkhianati keberadaan proses pendidikan sebagai proses pembudayaan. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa secara rasional antara pendidikan dan kebudayaan adalah sulit dipisahkan dan tidak tepat untuk dipisahkan karena keduanya sangat erat hubungannya.

Sunber: www.pintunet.com

Wajah Dunia Pendidikan Kita


Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, telah kita lalui. Tetapi, pesan moral yang terkandung di dalam peristiwa penting tersebut hendaknya senantiasa up to date dan tidak pernah berlalu dalam kehidupan kita.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak kita semua, anak bangsa negeri ini untuk memotret wajah dunia pendidikan kita saat ini. Dengan demikian diharapkan mampu menghadirkan semangat pada setiap individu masyarakat negeri ini untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air tercinta ini.

Peran Pendidikan

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pendidikan memunyai peranan yang sangat penting dalam proses kemajuan suatu bangsa. Semakin tinggi kualitas pendidikan di suatu bangsa, semakin tinggi pula kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa tersebut. Dan ini akan berimbas pada kemajuan peradaban bangsa tersebut. Sebaliknya, rendahnya kualitas pendidikan akan berdampak pada rendahnya mutu SDM, yang pada gilirannya akan menghambat kemajuan peradaban bangsa tersebut.

Persoalannya, untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan sejumlah prasyarat tertentu demi kelancaran proses penciptaan mutu pendidikan. Dari mulai tersedianya tenaga pengajar profesional, yang kompeten dan memiliki integritas serta dedikasi tinggi, terlengkapinya fasilitas serta sarana dan prasarana penunjang dalam proses belajar mengajar, serta efektif dan efisiennya kurikulum, dan sejumlah prasyarat lainnya.

Dalam konteks Indonesia, sejumlah prasyarat yang harus ada demi penciptaan mutu pendidikan tersebut belum seluruhnya terpenuhi. Kalaupun ada sekolah atau lembaga pendidikan yang memiliki sejumlah komponen prasyarat yang cukup memadai, tentu membebankan biaya yang tinggi kepada peserta didiknya. Sehingga, tidak mungkin terjangkau oleh masyarakat kebanyakan.

Inilah persoalan klise dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di satu sisi, kita mendambakan kualitas pendidikan yang baik untuk seluruh lapisan masyarakat. Di sisi lain, untuk memperoleh kualitas pendidikan yang baik, masyarakat harus menyediakan dana yang tidak sedikit. Sementara, kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat negeri ini sangat memprihatinkan.

Landasan Yuridis

Pada hakekatnya, bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UU No. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

Dari beberapa landasan yuridis di atas, maka jelas bahwa seluruh lapisan masyarakat negeri ini berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu. Dan untuk memperolehnya, pemerintah berkewajiban untuk memfasilitasinya.

Ironisnya, pemerintah sebagai penyelenggara negara, hanya rajin mendengungkan pentingnya pendidikan bagi warga negara, tanpa memberikan solusi terbaik untuk penyelenggaraan pendidikan di seluruh jenjang pendidikan. Hal ini terlihat dengan kurangnya anggaran pendidikan, baik dalam APBN maupun APBD, yang sampai saat ini masih tidak lebih dari 20%. Kenyataan ini, memaksa kita untuk menunda keinginan memiliki pendidikan yang berkualitas.

Tujuan Pendidikan

Kita semua mafhum bahwa tujuan utama pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan pribadi-pribadi berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia, serta membangun generasi mendatang dengan seperangkat intelektualitas, moralitas dan spiritualitas yang memadai.

Pendidikan, seperti diungkapkan para pakar, sejatinya merupakan sarana pembentukan manusia sempurna yang mengedepankan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Pendidikan yang baik, bukan hanya sekedar transfer of knowledge. Menjejali anak didik dengan serangkaian ilmu pengetahuan semata, tanpa didasari oleh seperangkat nilai-nilai pendidikan yang substansial, seperti penanaman aspek kepribadian dan pembentukan sikap.

Pendidikan yang sesungguhnya, selain sebagai sarana aktivitas belajar-mengajar, seharusnya juga sebagai wadah penanaman nilai humanisme, pluralisme, dan inklusivisme. Model pendidikan seperti inilah, hemat penulis, yang merupakan sarana efektif bagi anak didik untuk menjalani kehidupan sosial di tengah masyarakat yang heterogen ini dengan penuh toleransi dan kedamaian.

Kenyataan yang terjadi di lapangan, proses pembelajaran tidak lebih dari sekedar transfer of knowledge. Para pendidik merasa telah selesai menjalankan tugasnya ketika materi pembelajaran telah disampaikan. Hasil akhir dari proses belajar mengajar hanya dilihat dari deretan angka-angka yang menghiasi buku rapor peserta didik. Adapun integritas moral dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan terhadap peserta didik seringkali diabaikan. Akibatnya, para peserta didik berlomba-lomba mencari cara bagaimana agar mendapat nilai maksimal, tanpa memedulikan apakah cara yang ditempuh melanggar norma atau bahkan menginjak-injak moralitas.

Pelanggaran atas nilai-nilai moral, ternyata tidak hanya dilakukan oleh peserta didik, tetapi juga oleh para pendidik. Hal ini bisa dilihat, seperti dilansir sejumlah media cetak dan elektronik beberapa waktu lalu. Pada saat pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tahun 2008 untuk siswa SMA/MA/SMK, terjadi banyak sekali penyimpangan serta pelanggaran terhadap tata tertib UN.

Ada sejumlah oknum guru yang membocorkan soal ujian. Bahkan memberikan jawaban melalui sms ke ponsel para siswanya. Ada juga kepala sekolah serta guru bidang studi yang masuk ruangan UN dan mengoreksi jawaban peserta UN. Kesemua tindakan itu dilakukan demi menjaga nama baik sekolah tersebut.

Pelbagai perilaku tidak terpuji tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan di Indonesia ini masih kurang memedulikan nilai-nilai moral. Tingkat kelulusan yang ditentukan hanya dengan deretan angka hasil ujian, seakan menegaskan bahwa kecerdasan intelektual adalah segalanya. Sementara kecerdasan emosional, terlebih lagi kecerdasan spiritual masih belum mendapat tempat yang layak di dunia pendidikan kita.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, hendaknya menjadi cermin untuk melihat realita dunia pendidikan di Indonesia. Apa saja yang masih perlu dibenahi. Mana yang harus diperbaiki, serta langkah apa yang harus segera diambil untuk mengatasi berbagai persoalan yang melingkupi dunia pendidikan di Indonesia. Semoga wajah dunia pendidikan di Indonesia memancarkan aura positifnya. Sehingga mampu membawa bangsa ini menuju kehidupan yang lebih baik.

Sumber: kolumnis.com/2008/05/08/wajah-dunia-pendidikan-kita

Kamis, 26 Juni 2008

hal aneh yang dilakukan oleh pelajar

Revolusi Seks Bangku Sekolah

CIANJUR, bagi siapa pun yang pernah mengenal kota kabupaten di Jawa Barat itu, pasti punya kesan manis. Kota yang resik, berhawa sejuk, dengan lanskap pegunungan yang melankolis. Para mojangnya pun ramah renyah, dengan senyuman yang gampang tersungging di antara pipinya yang kuning ranum.

Lagu Semalam Di Cianjur yang dilantunkan Alfian (almarhum) sudah cukup menggambarkan semua kesan manis itu, meski liriknya pendek. "Kan kuingat di dalam hatiku/ betapa indah semalam di Cianjur/ Janji kasih yang tlah kau ucapkan/ penuh kenangan yang takkan terlupakan....''

Jika Anda bukan orang Sunda, datang ke Cianjur sudah cukup untuk melihat seluruh nuansa Periangan. Cianjur, sekitar 60 kilometer di barat Bandung, bisa dibilang jantungnya Tatar Sunda. Bagi orang Sunda sendiri, irama lagu cianjuran dengan iringan kecapi-sulingnya seolah memberi pengaruh magis yang aneh. Ada yang bilang, mendengar lagu itu seperti mendadak terkenang ke masa-masa lalu, bahkan jauh menyelusup ke zaman baheula.

Lirik dan melodinya seolah menerbangkan khayalan ke zaman Pajajaran, masa peradaban para karuhun Sunda dengan segala nilai Timur-nya yang puritan --ketika masyarakat masih mengenal pamali, sebagai tabu yang tak boleh dilabrak.

Tapi kini, kenangan itu buyar. Cianjur serta merta menyedot perhatian dalam kesan yang negatif. Kota Periangan yang selama ini dianggap setia pada nilai-nilai lama, dan religius, itu telah tercemari peradaban hedonis: seks bebas.

Seperti ramai diberitakan, 11 siswa dan siswi sekolah menengah umum negeri (SMUN) II Cianjur telah dipecat awal bulan ini karena terlibat seks bebas yang pamali itu. Bahkan kini beredar kepingan VCD berisi adegan sepasang pelajar melakukan, maaf, seks oral di kelas itu.

Masyarakat Cianjur pantas gerah. Kamis pekan lalu, ratusan pelajar dan mahasiswa se-Cianjur, yang menamakan diri Forum Masyarakat Anti Maksiat berunjuk rasa di depan kantor DPRD. Mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Cianjur serius menanggulangi segala bentuk prostitusi dan pornoaksi yang kian marak.

"Kami juga menyerukan masyarakat untuk meningkatkan pendidikan Islam," ujar Ganesya Arkadi, koordinator aksi, kepada Gatra. Masyarakat Cianjur memang sudah sepakat menerapkan syariat Islam sejak 26 Maret 2001. Pengunjuk rasa meminta agar kasus asusila yang terjadi di SMUN II diusut secara hukum.

Ketika Gatra berkunjung ke SMUN II di Jalan Siliwangi Cianjur, Kamis pekan lalu, kesedihan tergambar pada wajah para guru dan sebagian besar siswanya. "Kami malu dan trauma," kata Mohamad Iqbal, Ketua OSIS SMUN II Cianjur. Para siswi pun kini kerap jadi sasaran pelecehan. Ketika menunggu angkutan pulang di dekat sekolahnya, mereka sering mendapat sindiran dari para awak angkutan umum. "Neng sabaraha?" kata mereka, menanyakan tarif kencan.

Semuanya berawal dari perbuatan tak senonoh yang dilakukan sepasang pelajar SMUN II, sebut saja namanya Yuyun dan Didi. Kedua pelajar kelas dua Program Bahasa itu dituduh telah melakukan seks oral di bangku kelas. Adegan itu bahkan direkam seorang pelajar lain, panggil saja namanya Cici, dengan telepon selulernya. Kemudian gambar itu beredar di antara para pelajar pemilik seluler di Cianjur, beberapa hari menjelang Lebaran.

Menurut penuturan sejumlah siswa kepada Gatra, adegan mesum itu dilakukan Yuyun dan Didi sekitar pertengahan Oktober, tepat di bulan Ramadan! Mereka melakukannya saat jam istirahat, sekitar pukul 10.00. Saat itu suasana kelas sepi, sebagian siswa beristirahat di luar kelas. Suasana senyap itu ternyata dimanfaatkan Didi dan Yuyun, dua pelajar yang memang dikenal cuek. Apakah keduanya berpacaran? "Tidak, mereka cuma temenan saja," kata seorang siswa yang tak mau disebut namanya.

Tak ada yang tahu bagaimana awal kejadian itu. Yang jelas, sewaktu empat orang siswi lain masuk kelas, Yuyun dan Didi sedang terlena, direkam Cici. Didi duduk di bangku, sedangkan Yuyun jongkok di lantai. Keempat siswi yang baru masuk itu kontan berlarian ke luar kelas lagi. "Bahkan ada yang muntah-muntah melihatnya," kata siswa tadi. Rekaman peristiwa itu kemudian menyebar dari seluler ke seluler.

Akhirnya, sampailah kasus itu ke Dewan Guru SMUN II. Tak ayal lagi, para guru langsung memanggil Yuyun dan Didi. Keduanya konon berterus terang telah melakukannya. Tapi Didi dan Yuyun tak ingin disalahkan sendirian. Mereka mengoceh bahwa teman-temannya pun sudah terbiasa melakukan seks bebas.

Ada sejumlah siswi yang, katanya, biasa menjajakan diri kepada para hidung belang. Tarifnya sekitar Rp 200.000. Di kalangan mereka, siswi nakal itu disebut "cewek pulsa", yakni cewek yang biasa "jualan" untuk membeli pulsa seluler prabayar.

Yuyun menyebut delapan nama temannya, yang terlibat perilaku asusila itu. Dua di antaranya pelajar pria, yang selain pernah melakukan hubungan intim, juga bertindak sebagai germo. Dewan Guru SMUN II akhirnya mengeluarkan Didi, Yuyun, Cici, dan kedelapan pelajar tadi.

Belakangan, dari para pelajar yang dipecat itu terungkap aib lain yang lebih memalukan: seorang guru terlibat kegiatan seks bebas bersama mereka. Guru itu berinisial DS, pengajar biologi, ayah tiga anak. Menurut penuturan seorang siswa kepada Gatra, Pak DS ini sempat pula mencicipi Yuyun, sebelum menawarkannya kepada para pria hidung belang.

DS dijemput polisi Rabu pekan lalu dari rumahnya. "Dia kami jerat dengan Pasal 294 dan 293 KUHP tentang perbuatan cabul," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Cianjur, AKP Wardoli. Polisi masih menyelidiki hubungan DS dengan para siswa SMUN II yang dipecat itu.

Gatra sempat berusaha mencari para pelajar yang sudah dikeluarkan dari sekolahnya itu. Tapi tak seorang pun bisa ditemui. Mereka ngumpet setelah peristiwa aib itu mencuat. Yuyun yang tinggal di bilangan Warung Jajar, Cianjur, dikabarkan mengungsi ke Bandung. Sedangkan Didi kabarnya dipindahkan keluarganya ke Jakarta. Orangtua Didi yang membuka sebuah toko emas di Jalan Mangunsarkoro, menolak berbicara dengan Gatra. Mereka diam seolah tak terjadi apa-apa.

Padahal, aib di sekolah itu kini jadi bahan perbincangan di mana-mana. Kalangan pendidik memprihatinkan akhlak para pelajar Cianjur yang kian bebas. Dedy Suhendi, seorang guru di sebuah SLTP di Cianjur, mengatakan bahwa kasus di SMUN II boleh dibilang ibarat fenomena gunung es. "Banyak kenyataan yang tidak mencuat," katanya. "Banyak anak sekolah lain berperilaku begitu."

Seorang siswi sebuah SMU negeri lain di Cianjur membenarkan pendapat Dedy. "Kasus ini hanya sebagian kecil," katanya kepada Gatra. Dia menuturkan ada sejumlah temannya yang juga menjadi "cewek pulsa". Mereka siap dibawa ke penginapan yang banyak bertebaran di sepanjang jalur wisata ke arah Puncak atau Sukabumi.

Tapi, pergaulan bebas itu sama sekali bukan monopoli pelajar Cianjur. Para remaja di kota-kota lain pun, terutama kota besar, kini dinilai cenderung lebih permisif dalam urusan seks. Seorang siswi sekolah menengah di Jakarta, Pipi --bukan nama sebenarnya-- mengomentari kasus Cianjur dengan berujar, "Sinting, ngapain gituan di dalam kelas!"

Pipi tak bermaksud mengatakan dirinya bersih. Ia sendiri mengaku tak aneh dengan seks. Cuma, tak pernah melakukannya di kelas. Pipi, yang kini duduk di kelas III sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di kawasan Cawang, Jakarta Timur, itu terus terang sudah mengenal seks sejak kelas I.

Gilanya, bagi Pipi dan teman-temannya, seks adalah ''gaul''. Pipi biasa kongkow dengan tiga kawan sekelasnya. Kadang mereka menonton VCD porno bersama teman-teman cowoknya. Yang belum mencoba adegan dalam film porno itu dianggap kurang gaul.

Bagaimana mereka bisa begitu bebas dalam urusan seks? "Awalnya gue dikerjain pacar," Pipi bertutur. Tapi intim dengan sang pacar itu cuma berumur setahun. Mereka putus, dan Pipi lalu mencari gebetan baru dengan status anyar: bukan perawan lagi. Nothing to lose!

Pipi akhirnya tak sungkan lagi melayani pria hidung belang. Sebab, ia butuh duit untuk membeli handphone --nama beken telepon seluler. Dan "tuntutan pergaulan" itu terus berlanjut karena tiap bulan pulsa teleponnya habis. Sedangkan orangtuanya yang pas-pasan tak memberinya jatah duit.

Pipi bersama teman-temannya biasa mejeng di kawasan Cililitan, masih di Jakarta Timur. Di sanalah kawanan mereka mencegat mobil seorang wartawan Gatra, usai jam sekolah, suatu hari. Awalnya mereka cuma bilang mau menumpang sampai Kalibata Mal, tak jauh dari Cililitan. Tapi kemudian mereka tak ragu mengajak jalan-jalan.

Pipi akhirnya blak-blakan: ia dan tiga temannya siap diajak check in --istilah untuk bertransaksi seksual, dengan bayaran Rp 1 juta. Berempat sekaligus? "Kalau mau berdua enam ratus ribu deh," kata Pipi tanpa malu-malu. Yang jelas, gadis hitam manis itu menolak "melayani" sendiri pria dewasa yang baru dikenalnya. Kecuali kalau sudah akrab.

Anehnya, dua di antara rombongan gadis nakal itu mengatakan punya pacar tetap. Noni, misalnya mengaku sering melakukan hubungan intim dengan sang pacar, kapan saja mereka suka. "Seringnya, ya, di rumah dia," kata warga kawasan Pondokgede, Bekasi, yang menolak menyebutkan nama aslinya itu. Camer, alias calon mertuanya, kata Noni, cuek saja kalaupun ia berlama-lama di kamar cowoknya.

Uniknya, uang hasil transaksi birahi yang diperoleh Noni justru sering digunakan untuk hura-hura bersama sang pacar. Ia memang tak bercerita dari mana mendapatkan uang itu. Apa pun yang mereka lakukan, seolah sudah jadi rahasia mereka berempat. Solidaritas di antara keempatnya juga amat tinggi.

Kawanan Pipi tak sendirian. Di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, pada malam akhir pekan, kerap ditemui para remaja putri --yang juga menganut kebebasan yang sama-- mejeng. Mereka dikenal dengan sebutan "pekcum" alias perek cuma-cuma. Sebuah stasiun televisi pernah menayangkan aksi mereka. Sebagian besar dari mereka mengaku masih duduk di bangku SMU dan rela mengumbar berahi demi kesenangan.

Para remaja kini betul-betul tersesat ke zaman baru. Menurut seksolog Profesor Wimpie Pangkahila, pandangan masyarakat tentang seks memang telah berubah jauh. Seks tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral untuk dibicarakan, bahkan mulai dianggap sah-sah saja dilakukan meski tanpa ikatan.

"Akibatnya, perilaku seksual masyarakat makin bebas, tidak lagi terikat oleh norma-norma," kata guru besar Universitas Udayana, Bali, itu. "Dulu hamil sebelum menikah dianggap kecelakaan. Sekarang orang menikah dengan perut buncit hal biasa."

Gelombang kebebasan seks terasa kian menggelora setelah internet membumi pertengahan 1990-an, diikuti teknologi telepon seluler yang kian canggih. Keduanya memberikan fasilitas baru bagi pergaulan yang nyaris tanpa sekat.

Internet bukan cuma menyuguhkan gambar-gambar seronok lewat situs-situs pornonya, juga menjadi media untuk mencari kawan baru dengan semangat mesum. Telepon seluler yang dilengkapi kamera kini cenderung dianggap peranti dokumentasi baru untuk hal-hal yang paling pribadi. Semuanya telah menjadi alat gaul baru yang memicu perilaku aneh.

Lihat saja, banyak foto jorok para remaja tersebar dari layar seluler, bahkan masuk jaringan internet. Yang paling heboh adalah kasus foto telanjang siswa kelas III sebuah SMU Negeri, di Mojokerto, Jawa Timur, yang juga menjadi Yuk (Gadis) Mojokerto 2005. Foto-foto bugilnya terpajang di situs smu1puri.cjb.net, sejak Oktober lalu.

Pose-pose telanjang itu, seperti dilaporkan wartawan Gatra di Surabaya, Rach Alida Bahaweres, diduga dibuat oleh pacar sang gadis di sebuah penginapan di Lawang, Malang, pada September lalu. Entah siapa yang kemudian mentransfernya ke internet dan apa motifnya.

Yang jelas, gadis Mojokerto itu, Endang Christy Handayani, 18 tahun, tetap menolak mengakui gambar-gambar itu sebagai foto dirinya. Kini, Endang yang cukup berpretasi di sekolahnya itu menghilang setelah gelar Yuk Mojokertonya dicabut.

Gambar-gambar mesum para gadis lokal lainnya di internet --kadang dalam adegan panas dengan pasangannya-- tak terjelaskan asal-usulnya. Namun, semuanya menunjukkan bahwa kebebasan baru sudah lahir: seks terang-terangan.

Revolusi seks yang mencuat di Amerika Serikat dan Eropa pada akhir 1960-an seolah sudah merambah ke sini, melalui peranti teknologi informasi, dan sarana hiburan yang makin canggih. Bintang-bintang porno film biru Amerika kini dengan gampang bisa dinikmati melalui alat pemutar VCD dan DVD.

Yahya Ma'shum, Kepala Divisi Informasi, Edukasi, Motivasi, dan Advokasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengatakan, peta seks memang sudah berubah. "Dibandingkan dengan dua dekade lalu, hubungan seks di kalangan remaja telah meningkat, dan sudah terang-terangan," katanya kepada Ajeng Ritzki Pitakasari dari Gatra.

Hasil riset Synote tahun 2004 juga membuktikannya. Riset dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan ada 16 responden yang mengenal seks sejak usia 13-15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan hubungan seks di rumah. Sedangkan 26% melakukannya di tempat kos, dan 20 % lainnya di hotel.

Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada 2002, juga menunjukkan angka menyedihkan. Sebanyak 39,65% dari mereka pernah berhubungan seks sebelum nikah.

Sungguh celaka: para remaja mungkin mengidentikkan kebebasan seks dengan pergaulan modern. Padahal, menurut seksolog dokter Naek L. Tobing, seks bebas adalah kehidupan primitif. "Seks bebas terjadi sebelum agama-agama lahir," katanya. Ketika peradaban semakin maju, dan ilmu pengetahuan berkembang, seks bebas ternyata terbukti membawa banyak persoalan. Selain merusak tatanan sosial juga menyebarkan berbagai penyakit gawat.

Tanpa peran agama, pendidikan dan kontrol keluarga, kebebasan seks bisa jadi bakal makin menyesatkan.

Endang Sukendar, Rachmat Hidayat, dan Ida Farida (Bandung)

[Laporan Utama, Gatra Nomor 3 Beredar Senin, 28 November 2005]

Kamis, 19 Juni 2008

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

SEKOLAH MENENGAH UMUM/MADRASAH ALIYAH

PROGRAM STUDI IPA

MATA PELAJARAN BIOLOGI

No.

Materi

Kompetensi yang Diujikan

Bentuk Penilaian

1

Keanekaragaman hayati

- Mampu menentukan variasi pada tingkat yang berbeda dan mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan sistem tertentu

Tes tertulis dan praktek

2

Virus dan monera

- Menjelaskan struktur tubuh, reproduksi maupun peranan virus dan monera

Tes tertulis

3

Tumbuhan ganggang, lumut dan tumbuhan paku

- Menentukan ciri, reproduksi dan peranan dari ganggang, lumut, tumbuhan paku

Tes tertulis

4

Invertebrata

- Menjelaskan ciri, reproduksi dan peranan dari protozoa, porifera, coelenterata, cacing, moluska dan ekinodermata

Tes tertulis

5

Jamur

- Menjelaskan ciri, reproduksi dan peranan dari zygomicotina, ascomycotina, basidiomicotina dan deuteromicotina

Tes tertulis

6

Ekologi

- Memahami prinsip ekologi, interaksi antar komponen dari tingkat individu sampai tingkat bioma dan perkembangan ekosistem

Tes tertulis

7

Aksi interaksi

- Menjelaskan prinsip dan pola interaksi yang melibatkan faktor biotik, abiotik, rantai makanan, aliran energi dan siklus biogeokimia dalam ekosistem

Tes tertulis

8

Lingkungan

- Menerapkan prinsip etika lingkungan untuk menjaga keseimbangan lingkungan

Tes tertulis

9

Pelestarian sumber daya alam hayati

- Menjelaskan cara melestarikan sumber daya alam hayati

Tes tertulis

10

Struktur hewan

- Memahami struktur hewan dari jaringan, organ sampai sistem organ

Tes tertulis

11

Struktur tumbuhan

- Memahami struktur fungsi jaringan tumbuhan dan mengkomunikasi hasil pengamatan tentang jaringan dan organ

Tes tertulis

12

Pertumbuhan dan perkembangan

- Mampu menjelaskan proses pertumbuhan dan perkembangan disertai faktor yang mempengaruhinya

Tes tertulis

13

Gerak pada tumbuhan

- Memahami berbagai macam gerak tumbuhan dan penyebabnya

Tes tertulis

14

Mekanisme gerak pada vertebrata

- Menjelaskan mekanisme gerak pada hewan vertebrata

Tes tertulis


No.

Materi

Kompetensi yang Diujikan

Bentuk Penilaian

15

Transportasi pada tumbuhan

- Memahami pengangkutan bahan pada tumbuhan melalui difusi, osmosis dan transpor aktif

Tes tertulis

16

Sistem sirkulasi pada hewan dan manusia

- Memahami alat, proses dan sirkulasi pada manusia atau hewan, serta kelainan pada sistem sirkulasi manusia

Tes tertulis

17

Sistem percernaan makanan

- Menjelaskan fungsi zat makanan dan proses pencernaan makanan pada manusia dan hewan, serta gangguan pada sistem pencernaan manusia

Tes tertulis dan praktek

18

Sistem pernapasan

- Menjelaskan alat respirasi, proses dan gangguan pada sistem respirasi

Tes tertulis

19

Sistem ekskresi

- Menjelaskan alat, proses, dan gangguan pada sistem ekskresi

Tes tertulis

20

Sistem koordinasi

- Menjelaskan struktur fungsi alat, proses dan gangguan pada sistem saraf, indera dan endokrin

Tes tertulis

21

Sistem Reproduksi

- Menjelaskan struktur dan fungsi alat, serta proses reproduksi pada tumbuhan biji dan mamalia

Tes tertulis

22

Pemencaran organisme

- Menentukan hubungan antara struktur alat pemencaran dan penyebab pemencaran pada tumbuhan

Tes tertulis

23

Sel

- Memahami struktur dan fungsi bagian-bagian sel

Tes tertulis

24

Reproduksi sel

- Memahami proses mitosis dan meiosis

Tes tertulis

25

Metabolisme

- Memahami tahapan-tahapan dalam proses metabolisme

Tes tertulis dan praktek

26

Substansi genetika

- Mendeskripsikan struktur dan fungsi substansi genetik

Tes tertulis

27

Pola-pola hereditas dan Hereditas pada manusia

- Menerapkan prinsip pola-pola hereditas pada kasus yang diberikan baik pada tumbuhan, hewan atau manusia

Tes tertulis

28

Mutasi

- Memahami penyebab, akibat dan macam mutasi

Tes tertulis

29

Asal usul kehidupan

- Memahami asal usul kehidupan berdasarkan evolusi biologi dan evolusi kimia

Tes tertulis

30

Evolusi

- Menjelaskan fenomena evolusi, mekanisme evolusi dan petunjuk adanya evolusi

Tes tertulis

31

Biogeografi

- Menghubungkan daerah sebaran organisme dengan organisme yang ada

Tes tertulis

32

Upaya manusia dalam pengembangan sumber daya alam hayati

- Memahami usaha manusia dalam pengembangan tanaman dan hewan untuk meningkatkan pemanfaatannya dan pelestarian sumber daya alam hayati

Tes tertulis

33

Bioteknologi

- Memahami proses bioteknologi beserta keuntungan dan kerugiannya

Tes tertulis

B I O L O G I

SMP Nasional Kontraktor Production Sharing (KPS) Balikpapan

MENGUJI KARBOHIDRAT PADA TANAMAN

Siswa secara berkelompok melakukan kegiatan menutup sebagian daun dengan kertas timah/aluminium foil/kertas karbon untuk menghalangi sinar matahari agar tanaman tidak melakukan fotosintesis.

Siswa sedang menutup sebagian daun pada beberapa tanaman

Kurikulum Biologi Kelas IX

Standar Kompetensi 1 :

Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia

Kompetensi Dasar :

Mendeskripsikan sistem ekskresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

Mendeskripsikan sistem reproduksi dan penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi pada manusia

Mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indera pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

Standar Kompetensi 2 :

Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup

Kompetensi Dasar :

Mengidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi.

Kurikulum Biologi Kelas VIII

Standar Kompetensi 1 :

Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia

Kompetensi Dasar :

1.Menganalisis pentingnya pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup

2.Mendeskripsikan tahapan perkembangan manusia

3.Mendeskripsikan sistem gerak pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

4.Mendeskripsikan sistem pencernaan pada manusia dan dan hubungannya dengan kesehatan

5.Mendeskripsikan sistem pernapasan pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

6.Mendeskripsikan sistem peredaran darah pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

Standar Kompetensi 2

Kurikulum Biologi Kelas VII

Standar Kompetensi 1 :

Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan

Kompetensi Dasar :

1. Melaksanakan pengamatan objek secara terencana dan sistematis untuk memperoleh informasi gejala alam biotik dan abiotik

2. Menggunakan mikroskop dan peralatan pendukung lainnya untuk mengamati gejala-gejala kehidupan

3. Menerapkan keselamatan kerja dalam melakukan pengamatan gejala-gejala alam

Standar Kompetensi 2 :

Memahami keanekaragaman makhluk hidup

Kompetensi Dasar :

1. Mengidentifikasi ciri-ciri makhluk hidup

2.Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-cirinya.

Senin, 09 Juni 2008

Dasar Filosofi Pendidikan

ALIRAN PENDIDIKAN

PENGERTIAN

NAMA TOKOH

PENERAPANNYA DALAM PENDIDIKAN

  1. ESENSIALISME

Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.

1. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)
Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.

2. George Santayana
George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu.

1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif.
Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.

belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.

2.Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat

  1. PROGRESIVISME

Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.

1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)

James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.

2. John Dewey (1859 - 1952)

Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas

3. Hans Vaihinger (1852 - 1933)

Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.

Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.


filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes

(fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum.
Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek.

Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving.
Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.

3. PERENIALISM

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.

1. Plato

Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan

2. Aristoteles

Ia menganggap penting pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral

3. Thomas Aquinas

Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata

3.

1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)

2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)

3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)

4. REKONSTRUKSIONISME

Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, aliran rekonstruksionisme dan perenialisme, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran

George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg

Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.

Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

William James

  • Seorang pendahulu yang dianggap paling penting untuk aliran fungsionalisme. Pendidikan awalnya adalah seorang dokter dan ia pertama kali mengajar fisiologis di Harvard pada tahun 1872. Semenjak tahun 1878 ia mendalami filsafat dan psikologi serta mendapat gelar professor untuk kedua bidang tsb. Menurut Lundin (1991), James lebih muncul sebagai seorang filsuf daripada seorang psikolog. Pengaruhnya sangat kuat pada aliran fungsionalisme, terutama kelompok Chicago school.
  • Karya utamanya adalah Principles of Psychology. Karya yang sering dijadikan rujukan untuk mahasiswa psikologi tahun awal adalah Psychology : Briefer Course.
  • Definisi dan ruang lingkup psikologi. Psychology is the science of mental life, both of its phenomenon and of their conditions” Fenomena adalah subyek dan kondisi adalah proses fisiologis di otak. Psikologi adalah natural science.
  • Metode psikologi. Ada tiga metode utama dalam psikologi:
    • Introspection

Merupakan metode penting dan utama dalam psikologi. Introspeksi yang dimaksud sangat berbeda dengan introspeksi dalam aliran strukturalisme. Bagi James, introspeksi adalah kecenderungan alamiah manusia, kemampuan untuk menyadari apa yang telah terjadi.

    • Experimentation

James mengakui metode ini sebagai metode penting namun tidak pernah melakukannya sendiri. Ia menganggap metode ini perlu dieksplorasi lebih lanjut.

    • Comparative method
      Metode tambahan yang dapat digunakan untuk psikologi anak-anak, binatang, orang primitif, dan penderita gangguan mental.
  • Dalam pandangan-pandangannya yang lain, tampak jelas bahwa bagi James, proses fisiologis di otak dan di dalam tubuh manusia adalah representasi dari proses mental dan hal ini adalah penentu tingkah laku dan menentukan bagaimana manusia mempersepsikan lingkungan. James juga mengakui adanya proses habituasi yang otomatis dan semakin tidak disadari, meskipun meninggalkan jejak dalam benak manusia. Baginya, proses mind lebih penting daripada elemen-elemen mind itu sendiri. Pandangan ini terwakili dengan jelas dalam teorinya tentang emosi, bersama-sama Carl Lange, yang dikenal sebagai James-Lange Theory. (Baca pandangan James tentang habit, instintct, emotion, reason dan memory, Lundin hal 104-106)
  • James dikenal sebagai salah seorang psikolog terbesar Amerika. Sebagai pribadi ia juga diakui populer dan charming, serta kemampuan menulisnya sangat mengagumkan. Ia juga dikenal sebagai seorang penentang keras aliran strukturalisme dari Wundt. Meskipun pada masanya idenya sangat berpengaruh, dengan berlalunya waktu hanya sedikit pandangannya yang bertahan hingga masa kini.

C. Ciri Fungsionalisme

  • Lebih menekankan pada fungsi mental daripada elemen-elemen mental.
  • Fungsi-fungsi psikologis adalah adaptasi terhadap lingkungan sebagaimana adaptasi biologis Darwin. Kemampuan individu untuk berubah sesuai tuntutan dalam hubungannya dengan lingkungan adalah sesuatu yang terpenting
  • Fungsionalisme juga sangat memandang penting aspek terapan atau fungsi dari psikologi itu sendiri bagi berbagai bidang dan kelompok manusia.
  • Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan respon adalah suatu kesatuan
  • Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi. Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi fisiologis akan sangat membantu pemahaman terhdap fungsi mental.
  • Menerima berbagai metode dalam mempelajari aktivitas mental manusia. Meskipun sebagian besar riset di Uni. Chicago (pusat berkembangnya aliran fungsionalisme) menggunakan metode eksperimen, pada dasarnya aliran fungsionalisme tidak berpegang pada satu metode inti. Metode yang digunakan sangat tergantung dari permasalahan yang dihadapi

D. Tokoh-tokoh

John Dewey (1859-1952)

  • Latar belakangnya adalah seorang guru dan mendapat gelar PH.D dalam bidang filsafat. Ia kemudian mengajar di University of Chicago dan ikut dalam perkembangan fungsionalisme di Chicago. Tahun 1904 pindah ke Columbia University dan tinggal di sana hingga akhir hayatnya.
  • Pandangan utamanya bahwa sebuah aksi psikologis adlaah suatu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipecah ke dalam bagian-bagian atau elemen (seperti yang dilakukan oleh strukturalisme). Maka setiap psychological events tidak bisa dipandang sebagai konstruk-konstruk abstrak. Akan lebih bermanfaat apabila difokuskan pada fungsi psy. Events tersebut, yaitu dalam konteksnya sebagai adaptasi manusia. Contoh : anak yang mengulurkan jarinya sebagai respon adanya api dan terbakar.

James Rowland Angell (1867-1949)

  • Berasal dari keluarga terpelajar, ayah dan kakeknya pernah menjabat sebagai rektor dari universitas besar di AS. Ia memperoleh gelar M.A. dari Harvard dan menjadi murid William James di sana. Sepanjang karirnya ia tidak pernah mendapat gelar Ph.D namun memperoleh 23 gelar doktor honoris causa. Ia menjabat kepala departemen psikologi dan pernah menjabat sebagai presiden dari APA.
  • Angell adalah seorang yang kritikal terhadap strukturalisme. Pada masa keaktifannya, aliran fungsionalisme sedang berkembang dan berjuang untuk memperoleh tempat yang mapan dalam khasanah dunia ilmu sehingga juga memunculkan banyak kritik terhadap aliran strukturalisme yang sudah lebih dlu mapan. Baginya, psychological entity tidak ada yang dapat dipisah-pisah seperti sel dalam ilmu biologi. Psychological entity adalah sebuah kompleks yang kita kenal sebagai persepsi. Hal ini jelas tidak sejalan dengan strukturalisme.
  • Functional psychology adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan mind and body.

J.J.Rosseau

Jean Jaqques Rosseau, seorang tokoh pembaharu Perancis menyebutkan, Semua yang kita butuhkan dan semua kekurangan kita waktu lahir, hanya akan kita penuhi melalui pendidikan.


Thorndike

Menurut Thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus (yaitu yang berupa rangsangan seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera), dengan respon (yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakan/tindakan). Oleh karena itu, teori ini juga disebut “S-R Bond Theory” dan “S-R Psychology of Learning”. Menurut teori ini, perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar dapat berujud kongkrit yaitu dapat diamati. Thorndike juga merumuskan beberapa hukum dalam belajar yaitu : pertama, motivasi (misalnya rasa lapar, rasa ingin dihargai, ingin pandai) merupakan hal yang sangat vital dalam belajar. Kedua, low of effect; artinya jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan maka hubungan antara stimulus dan respons semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan (menganggu) efek yang dicapai respon, semakin lemah pula hubungan stimulus dan respons tersebut.Selain itu, Thorndike juga membuat hukum belajar lainnya yaitu law of readiness (hukum kesiap-siagaan) dan law of exercise (hukum latihan)